Kekakuan yg tak memberikan banyak kawan

Sudah hampir 3 tahun saya berulang kali membaca buku Dale Carnegie “How To Win Friends and Influence People”, yang sampai saat ini sudah dicetak hampir di sebagian besar negara dunia dan dicetak dalam 37 bahasa. Dari buku itulah saya mendapatkan pembelajaran mengenai bagaimana saya bisa mendapatkan kawan dan juga mempengaruhi orang-orang untuk bisa berbuat lebih baik terhadap kehidupannya.

Saya mengenal buku itu sejak berada di tingkat akhir SMA. Saya masih ingat betul tentang bagaimana saya hampir putus asa mencari perguruan tinggi yang kira-kira mau menerima mahasiswa baru yang latar belakang keluarga tidak mampu seperti saya ini. Saya hampir saja memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya karena keterbatasan biaya yang keluarga ku miliki.

Selain dengan keterbatasan itu, saya juga memiliki tabiat yang buruk dalam pertemanan, karena dulu saya sangatlah kaku dan egois. Tetapi setelah di bangku perkuliahan (saya sangat bersyukur karena ada bantuan beasiswa bagi orang tak mampu seperti saya) dan mengamati perilaku di sekitar saya, ternyata ada orang-orang yang kekakuan dan keegoisan melebihi saya. Di sinilah saya baru menyadari bahwa ketika di dalam pergaulan yang memiliki variasi tingkat sosial yang tinggi dan dengan kemampuan keuangan saya yang sangat minim, sifat kekakuan dan keegoisan dalam diri saya harus diubah. Orang-orang yang tingkat sosialnya lebih tinggi boleh saja berbuat senaknya pada saya, karena saya sangatlah menyadari dimana kedudukan saya saat ini. Orang-orang yang lebih pandai dari pada saya, boleh saja menyepelekan saran atau kalimat instruktif yang saya berikan di depan mereka, karena mereka lebih berpengalaman dan lebih pintar. Tapi, ada satu hal yang semestinya mereka sadari (setidaknya mereka sudah pernah introspeksi atau membaca buku motivator semacam karya Dale Carnegie ini), bahwa kekakuan dan keegoisan tidak akan pernah memberikan rasa kenyamanan pada siapapun yang menjadi kawan kita.

Kekakuan hanya akan mendatangkan musuh. Mengapa?. Hal inilah yang saya sadari baru-baru ini setelah saya melihat dan mengalaminya sendiri. Perdebatan akibat adanya perbedaan pendapat sudah menjadi hal yang wajar di dalam sebuah perkumpulan atau pertemuan. Ketika ada seseorang yang dengan sangat kuatnya mempertahankan argumennya di depan orang-orang yang menentangnya, maka itu sama saja dengan memberikan peluang besar untuk memperoleh musuh sebanyak-banyaknya. Walau argumen yang diungkapkan adalah benar dan sesuai dengan fakta yang ada, tetapi ketika orang-orang yang berhadapan dengan kita adalah orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita, maka sebaiknya kekakuan itu segera anda ubah menjadi suatu sikap mengalah. Mengalah bukanlah suatu keadaan yang menyatakan bahwa kita kalah. Mengalah justru menjadi suatu langkah awal bagi kita untuk mendapatkan kemenangan. Saat kita mengalah dan membiarkan orang lain menang dan puas akan apa yang diucapkan, maka ia pasti akan memberikan sebuah penghargaan atas sikap kita yang sudah bersedia untuk membiarkannya menyelamatkan muka dan nama baiknya.

Tak ada satu pun keuntungan ynga kita peroleh saat kita mempermalukan seseorang di hadapan kita dengan cara memojokkan pendapatnya yang dianggap salah. Walaupun pendapat yang kita pertahankan adalah benar, tetapi ketika lawan bicara kita sudah tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan muka dan nama baiknya, maka di sanalah kita akan memperoleh musuh. Ini dikarenakan kekakuan kita dalam mempertahankan argumen yang benar telah dianggap oleh lawan bicara kita sebagai tindakan yang menjatuhkan nama baiknya depan umum dan juga mencoreng mukanya. Dan akhirnya kita pun akan kehilangan kawan akibat kekakuan yang kita miliki.

Dari penjelasan di atas, seseorang yang memiliki kekakuan yang tinggi, sebaiknya bisa meredam kekakuan itu ketika sedang beradu pendapat dengan orang lain. Karena, kekakuan kita hanyalah akan menyebabkan orang tersebut kehilangan muka dan nama baiknya akibat terpojokkan oleh argumen-argumen yang sangat menyalahkan dan menyudutkannya.

Jadi, di dalam pertemuan atau perkumpulan yang kita hadiri, Berikanlah kesempatan untuk orang lain menyelamatkan muka dan nama baiknya.

 

 

About hanayuliana

just a simple person. I love My God I love my parent I love my best friends and I love everyone :)
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kekakuan yg tak memberikan banyak kawan

  1. GoesWach Penuh Rizky says:

    Hi….
    U ana yg dlu school di SMPN 1 Bnjar,anak pndhan tu ya????
    jika bner….gmn kbr u skarang neee???
    bdw kuliah dmn???
    mkci…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s